Enam Pertanyaan Imam Al – Ghazali
Selasa, 22 Maret 2011Cerita ini saya kutip dari sebuah buku yang berjudul “Engkau Lebih Cantik Dari Bulan Purnama – 80 Kisah Islami terbaik” karya Muhamad Yasir.
Demikianlah terjadi perbincangan dan diskusi penuh kehangatan seorang syaikh dengan murid-muridnya adalah hal yang biasa terlihat dalam sebuah halaqah atau masjid.
Seperti biasa, Imam Al-Ghazali berkumpul dengan murid-murid kesayangannya. Ia begitu mencintai mereka dan mereka pun mencintai Imam Al-Ghazali. Disela-sela kehangatan itulah, Imam Al-Ghazali mengajukan pertanyaan kepada mereka.
Pertama, “Wahai anak-anakku sekalian, apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?” tanyanya. Sebagian murid-muridnya ada yang menjawab, “Yang paling terdekat dengan diri kita didunia ini adalah orang tua.” Sebagian ada yang menjawab, “teman.” Sebagian lagi, “guru.” Sebagian lagi, “keluarga.”
Imam Al-Ghazali kemudian menjelaskan, “Wahai anak-anakku sekalian, semua jawaban itu benar. Tetapi, sesungguhnya yang paling dekat dengan kita adalah “kematian.” Sebab itu sudah janji Allah bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati (Ali IMran: 185).
Lalu, Imam Al-Ghazali meneruskan pertanyaan yang kedua. “Wahai anak-anakku sekalian, apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?” Murid-muridnya ada yang menjawab, “Yang paling jauh dari diri kita di dunia ini adalah negara Cina.” Sebagian menjawab, “bulan.” Sebagian menjawab, “matahari.” Sebagian lagi menjawab, “bintang-bintang.”
Imam Al-Ghazali pun menjelaskan, “Wahai anak-anakku, bahwa semua jawaban yang kalian berikan adalah benar. Tapi yang paling benar adalah masa lalu. Bagaimanapun kita, apa pun kendaraan kita, tetap kita tidak bisa kembali ke masa lalu. Oleh sebab itu, kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran agama. Besok telah menjadi menjadi hari ini, hari ini telah berubah menjadi kemarin. Masa depan telah berubah menjadi masa lalu, dan ia akan semakin jauh meninggalkan kita.”
Lalu, Imam Al-Ghazali meneruskan dengan pertanyaan ketiga. “Wahai anak-anakku, apa yang paling besar di dunia ini?” MUrid-muridnya ada yang menjawab, “gunung” Sebagian menjawab, “bumi.” Sebagian menjawab, “matahari.”
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa, “Semua jawaban itu benar. Tapi yang paling besar dari yang ada di didunia ini adalah “nafsu”. Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kpada keburukan. Karena itu, kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka.”
Imam Al-Ghazali kemudian melanjutkan pertanyaan keempat, “Apa yang paling berat di dunia ini?” Sebagian murid-muridnya ada yang menjawab, “baja.” Sebagian menjawab, “besi.” Sebagian menjawab, “gajah.” “Semua jawaban kalian hampir benar, “ kata Imam Ghazali, tapi yang paling berat didunia ini adalah memegang amanah. Allah telah menyebutkan, “Sesungguhnya kami telah menawarkan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, namun semua menolaknya, dan amanah itu diterima oleh manusia, itulah bentuk kezaliman dan kebodohan (Al-Ahzab: 72).” Walau semua makhluk Allah menyatakan tidak sanggup, manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah, sehingga banyak dari manusia masuk neraka karena ia tidak bisa memegang amanahnya.
Imam Al-Ghazali melanjutkan pertanyaan kelima, “Apa yang paling ringan di dunia ini?” Sebagian murid ada yang menjawab, “kapas.” Sebagian menjawab, “angin.” Sebagian menjawab, “debu.” Sebagian menjawab, “daun-daunan.” “Semua itu benar, “ kata Imam Al-Ghazali, “Tapi yang paling ringan di dunia ini adalah meninggalkan shalat. Gara-gara pekerjaan kita tinggalkan shalat. Karena pertemuan kita tinggalkan shalat.”
Lantas, Imam Al-Ghazali pun melanjutkan pertanyaan ke enam, “Wahai anak-anakku, sekarang pertanyaanku yang terakhir untuk kalian, apakah yang paling tajam di dunia ini?”
Murid-muridnya serentak menjawab, “pedang.” “Benar,” kata Imam Al-Ghazali. Tapi, yang paling tajam adalah “lidah manusia. Karena melalui lidah, manusia dengan gampangnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri. Betapa banyak orang yang tegelincir hanya karena tak kuasa menjaga lidahnya.
Semoga kisah ini bermanfaat bagi kita semua. Amin

